Latihan rohani merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter dan olah batin para siswa di SMP Kanisius Kalasan. Sebagai lembaga pendidikan Katolik yang berada di bawah naungan Serikat Jesus (Jesuit), sekolah ini secara konsisten menanamkan nilai-nilai Ignatian dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tradisi spiritual yang menjadi pilar utama pembiasaan diri di sekolah ini adalah Examen Conscientiae atau latihan pemeriksaan batin.
Praktik Examen Conscientiae telah dijalankan secara berkesinambungan di SMP Kanisius Kalasan selama dua tahun terakhir. Sejauh ini, pembiasaan tersebut telah memberikan dampak yang sangat positif dalam membentuk pribadi siswa yang memiliki kesadaran diri, santun, dan bertanggung jawab. Para siswa kelas 8 dan 9 bahkan telah terbiasa mempraktikkan ritme refleksi ini secara mandiri di hari senin, selasa, rabu dan jumat serta secara terpandu pada akhir dinamika pembelajaran hari kamis di setiap minggunya.
Guna menjaga keberlanjutan kultur spiritual tersebut, SMP Kanisius Kalasan memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) T.A. 2026/2027 untuk mengenalkan dan memperdalam konsep Examen Conscientiae kepada para siswa baru kelas 7. Kegiatan pengenalan dan penyegaran ini dipandu secara interaktif oleh dua guru, yakni Ibu Heffi Widyaningrum dan Bapak Daniel Damar Fajar Panuntut.
Dalam sesi tersebut, Ibu Heffi dan Pak Fajar memaparkan bahwa Examen Conscientiae bukan sekadar rutinitas doa atau refleksi pasif, melainkan sebuah metode Ignatian untuk membangun habitus (kebiasaan) mawas diri secara jujur dan terbuka. Melalui metode ini, siswa diajak untuk secara rutin mengecek tiga unsur penting dalam diri mereka, yaitu pikiran, perkataan, dan perbuatan. Para pemandu mengibaratkan pemeriksaan batin ini seperti servis kendaraan secara berkala; mesin yang terus digunakan perlu dirawat agar tetap berfungsi dengan baik, begitu pula dengan batin dan pikiran manusia yang beraktivitas setiap hari.
Siswa kelas 7 dikenalkan pada lima langkah utama Examen menurut St. Ignatius Loyola: (1) bersyukur: menerima dan berterima kasih atas segala anugerah yang diterima sepanjang hari; (2) mohon rahmat: Memohon terang Roh Kudus untuk mengenali diri dan melepaskan diri dari kelemahan; (3) memeriksa diri: Meninjau kembali pikiran, perkataan, dan tindakan yang telah dilakukan; (4) mohon ampun: mengakui kekurangan serta memohon ampun atas dosa dan kesalahan; (5) niat perbaikan: menyusun niat konkret untuk memperbaiki diri dengan bantuan rahmat Allah.
Selain examen, para siswa juga diajak memahami konsep pembedaan roh (discernment), yakni mengenali dorongan "roh baik" dan "roh jahat" dalam konteks kehidupan remaja. Pemandu memberikan contoh konkret yang akrab dengan keseharian siswa, seperti dorongan untuk menawarkan bantuan kepada teman tanpa diminta sebagai bentuk kerja roh baik. Sebaliknya, kecenderungan untuk lepas kendali lewat emosi verbal, malas mengerjakan tugas, membolos hingga kecanduan gawai (gadget) dijelaskan sebagai bentuk godaan yang perlu diwaspadai.
Melalui sesi ini, siswa dikenalkan pada prinsip pruning, yaitu keberanian untuk menghentikan atau memotong kebiasaan-kebiasaan buruk agar energi dan perhatian siswa fokus pada hal-hal positif yang membangun. Diharapkan, dengan pendampingan ini, seluruh siswa dapat segera beradaptasi dan menyatu dalam kultur mawas diri yang telah terbentuk di SMP Kanisius Kalasan.